Ciri-Ciri Orang yang Shalatnya Rusak

Kasus dugaan suap di kalangan pejabat di Indonesia mestinya menjadi pengingat bahwa shalat seharusnya membentuk kejujuran dan amanah, bukan sekadar ritual tanpa perubahan perilaku.

Mengapa seseorang masih melakukan tindakan korupsi meskipun melaksanakan shalat? Bagaimana shalat dapat membentuk perilaku jujur dan amanah dalam kehidupan sehari-hari?

Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat seharusnya mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Artinya, shalat bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi juga harus membawa perubahan pada perilaku (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa shalat mengandung zikir dan penghambaan kepada Allah yang dapat menjadi pengingat manusia untuk menjauhi kemaksiatan. Karena itu, kualitas shalat semestinya terlihat dalam sikap dan perbuatan setelah seseorang selesai beribadah (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, QS. Al-‘Ankabut: 45).

Sejalan dengan itu, Rasulullah mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh berjalan bersama kebohongan dan perbuatan buruk. Pesan ini menunjukkan bahwa ibadah seharusnya membentuk akhlak dan perilaku yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari (HR. Bukhari, no. 1903).

Shalat: Ritual atau Perubahan Perilaku?

Fenomena orang yang rajin shalat tetapi masih melakukan kecurangan menunjukkan bahwa shalat secara ritual belum tentu menghasilkan perubahan perilaku. Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Menurut Ibnu Qayyim, ada lima ciri orang yang kualitas shalatnya bermasalah: pertama, lalai terhadap waktu shalat; kedua, mengerjakan shalat secara asal-asalan; ketiga, shalat tetapi pikirannya ke mana-mana; keempat, tidak berusaha menghadirkan hati; dan kelima, hatinya tidak benar-benar sadar sedang menghadap Allah  (Ibnu Qayyim, Al-Wabil al-Shayyib).

Kelima hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas shalat tidak hanya diukur dari selesai atau tidaknya shalat, tetapi juga dari kehadiran hati di dalamnya. Shalat yang hanya menjadi rutinitas berisiko tidak memberikan pengaruh kuat terhadap perilaku.

Dalam kehidupan sehari-hari, persoalannya terlihat ketika seseorang mampu khusyuk beberapa menit di atas sajadah, tetapi setelahnya kembali berbohong, curang, atau mengambil hak orang lain. Ritualnya ada, tetapi nilai moralnya belum terbawa ke luar.

Karena itu, shalat seharusnya menjadi latihan untuk membangun kejujuran, amanah, disiplin, dan pengendalian diri. Jika nilai tersebut tidak tampak dalam perilaku, seseorang perlu bertanya kembali: apakah shalatnya benar-benar sudah dihayati?

Dengan demikian, “shalat yang rusak” bukan berarti langsung menyatakan shalatnya tidak sah, tetapi menunjuk pada shalat yang kehilangan daya transformasi moral. Inilah pentingnya melihat shalat bukan hanya dari gerakan, tetapi juga dari perubahan akhlak setelahnya.

Menghidupkan Kembali Makna Shalat

Memperbaiki shalat tidak cukup dengan memperbaiki gerakan dan bacaan. Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali kesadaran bahwa shalat seharusnya mengubah perilaku. Shalat bukan titik akhir ibadah, melainkan latihan agar seseorang mampu membawa kesadaran kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah pertama adalah memperbaiki hubungan dengan waktu. Jangan menjadikan shalat sebagai kegiatan yang dikerjakan ketika pekerjaan sudah selesai. Justru pekerjaanlah yang perlu disusun agar tidak mengganggu waktu shalat. Dari sini, shalat melatih seseorang menjadi pribadi yang disiplin dan menghargai waktu.

Langkah kedua adalah memperlambat dan memahami apa yang dibaca. Shalat yang terburu-buru membuat tubuh bergerak, tetapi hati belum tentu mengikuti. Memahami makna bacaan membuat shalat lebih personal: ketika mengucapkan permohonan kepada Allah, seseorang juga mengingat tanggung jawab yang harus dijalankannya setelah selesai shalat.

Langkah ketiga adalah membawa nilai shalat keluar dari sajadah. Setelah shalat, pertanyaan sederhananya bukan hanya “sudah shalat atau belum?”, tetapi “apa yang berubah dari diri saya?”. Jika masih mudah berbohong, curang, marah, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya, berarti ada nilai shalat yang belum benar-benar diterapkan.

Langkah keempat adalah menjadikan shalat sebagai kontrol diri. Ketika berhadapan dengan godaan uang, jabatan, atau kepentingan pribadi, seseorang perlu mengingat kembali siapa yang selalu melihatnya. Kesadaran seperti inilah yang membuat shalat memiliki hubungan langsung dengan kejujuran dan amanah.

Langkah kelima adalah melakukan evaluasi setiap hari. Tidak perlu menunggu menjadi orang sempurna. Cukup bertanya setelah shalat: apakah hari ini saya lebih jujur, lebih sabar, lebih amanah, dan lebih mampu menahan diri? Evaluasi sederhana ini membuat shalat tidak berhenti sebagai kewajiban, tetapi menjadi proses memperbaiki diri.

Ibaratnya, “shalat sebagai audit moral”. Sebagaimana seseorang mengevaluasi pekerjaan, shalat juga dapat menjadi momentum untuk mengaudit perilaku diri sendiri. Semakin baik shalat dihayati, semestinya semakin ketat seseorang mengawasi kejujuran, amanah, dan tanggung jawabnya.

Dengan demikian, memperbaiki shalat bukan hanya soal menambah kekhusyukan ketika berdiri di atas sajadah, tetapi memastikan kekhusyukan itu tetap hidup ketika berhadapan dengan manusia. Sebab, ukuran keberhasilan shalat pada akhirnya bukan hanya terlihat di masjid, melainkan juga di kantor, rumah, pasar, kampus, dan di setiap tempat ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Dr. Edi Sugianto, S.Pd.I, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Dr. Edi Sugianto, S.Pd.I, M.Pd? Silakan Klik disini