Sesekali pernahkah kita merenungi diri sendiri? Atas segala do’a yang mendadak panjang dan mengular setelah datangnya musibah, namun seolah tak ada kewajiban bersyukur setelah menerima berbagai nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Inilah dua wajah diri kita yang perlu kita sadari; Berpaling dari-Nya ketika diberikan nikmat dan bersimpuh memohon-mohon ketika diberikan ujian, cobaan serta musibah.
Mari kita sama-sama merenungi Firman Allah SWT dalam QS. Fussilat: 51:
وَاِذَآ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُوْ دُعَاۤءٍ عَرِيْضٍ
Apabila Kami menganugerahkan kenikmatan kepada manusia, niscaya dia berpaling (tidak mensyukuri nikmat-Nya) dan menjauhkan diri (dari Allah dengan sombong), namun apabila kesusahan menimpanya, dia akan banyak berdoa.
Jika kita merasa bahwa persoalan ini adalah hal baru, maka al-Qur’an sudah membahasnya sejak lama. Sikap “berpaling” dari manusia ini, dijelaskan lebih mendalam oleh Abi al-Fida Isma’il ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim bahwa makna dari أعرص ialah:
أعرض عن الطاعة واستكبر عن الإنقياد لأوامرالله
“Ia berpaling dari ketaatan dan menyombongkan diri untuk tunduk kepada perintah-perintah Allah.”
Kesombongan bukan hanya merasa kuat sendiri, namun ketika kita merasa bahwa segala hasil yang kita punya dan terima hari ini semata-mata karena kerja keras kita, semata-mata karena strategi yang kita rancang; maka ini juga bentuk dari kesombongan. Bahkan jauh lebih buruk jika ini masuk sampai pada perasaan. Dimana, hati dan pikiran merasa bahwa kita “tidak perlu” menyandarkan urusan pada Allah SWT. Na’udzubillah.
Sampailah saat kesusahan menghampiri kita, baru disadari betapa lemahnya diri dan baru kita mengerti betapa butuhnya kita menyandarkan urusan kepada Allah Swt. Hal ini ditunjukkan dengan bersimpuhnya kita dihadapan Allah Swt, mengadukan segala persoalan dan memanjatkan doa yang begitu panjang. Namun, seringkali doa-doa ini hanyalah do’a yang bersifat عريض dimana Ibnu Katsir menjelaskan:
يطيل المسألة في الشيء الواحد. فالكلام العريض : ما طال لفظه وقلّ معناه. والوجيز: عكسه, وهو ما قلّ ودلّ
“Ia memanjangkan permintaan dalam satu perkara. Ucapan yang ‘arīḍ adalah ucapan yang panjang lafaznya tetapi sedikit maknanya. Sedangkan ucapan yang wajīz adalah kebalikannya, yaitu lafaznya sedikit namun maknanya banyak.”
Nikmat dan Derita: Dua Bentuk Ujian
Tidak semua kenikmatan mampu membawa seorang hamba pada ketaatan dan rasa syukur. Tak jarang, ia melahirkan kesombongan dan perilaku buruk. Sebut saja kisah Qarun, salah seorang yang se-zaman dengan Nabi Musa AS. Allah Swt berikan ia titipan harta dan kemampuan untuk memiliki banyak materi. Jauh dari syukur, ia malah memamerkan apa yang ia punya dan menyebut bahwa semua itu diraih atas usaha “dirinya” sendiri.
Begitupun dengan derita; tidak semua manusia yang diuji dengannya maka jauh dari rasa syukur. Fakta di lapangan menampilkan bahwa banyak orang-orang yang masih sanggup tersenyum dan berbagi di tengah keterbatasannya. Sebab, mereka yang punya kebesaran hati dan keluasan jiwa akan selalu mampu melihat titik kasih dibalik ujian dan rasa perih. Sekaligus, ini jadi cambukan buat kita; bahwa sudah semestinya kita terus mengenal Allah Swt, baik pada waktu luang ataupun sempit. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Saw:
إحفظ الله تجده أمامك, تعرّف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدّة, واعلم أنّ ما أخطأك لم يكن ليصيبك, وما أصابك لم يكن ليخطئك، واعلم أنَ النصر مع الصبر وأنّ الفرج مع الكرب وأن مع العسر يسرا
“Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu (menolong dan membimbingmu). Kenalilah Allah pada saat lapang, niscaya Dia akan mengenalmu pada saat sempit. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak mungkin akan menimpamu, dan apa yang telah menimpamu tidak mungkin akan luput darimu. Ketahuilah pula bahwa pertolongan itu selalu bersama kesabaran, jalan keluar selalu menyertai kesulitan, dan bersama setiap kesulitan ada kemudahan.” (Musnad Imam Ahmad)
Nasihat ini, diterima oleh Ibnu Abbas ketika ia bersama Rasulullah SAW. Satu gambaran jelas bahwa Nabi sangat menjaga kelangsungan generasi dengan nasihat yang singkat tapi bisa dipegang sepanjang hayat. Musthafa Dieb al-Bugha menerangkan bahwa hadis ini ingin menyampaikan jika kita menjaga Allah (Menaati perintah dan menjauhi larangan) maka Allah akan jaga akhirat kita.
Semoga, Allah Swt golongkan kita menjadi pribadi yang taat dan senantiasa bahagia di atas jalan-Nya.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini