Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering kali mendapati kenyataan bahwa mengubah perilaku manusia bukanlah persoalan membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan proses, ketabahan, dan kedalaman tenggang rasa. KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam salah satu ceramahnya mengatakan, “Memperbaiki manusia itu butuh proses. Jika tugas Nabi hanya untuk menghabisi keburukan, tentu kerja sama dengan Izrail jauh lebih efektif daripada Jibril.”
Kelembutan ini bukanlah sekadar pilihan taktik, melainkan manifestasi nyata dari rahmat Ilahi yang tercurah ke dalam kalbu Rasulullah SAW. Dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran [3] ayat 159 disebutkan,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (Q.S. Ali Imran [3]: 159)
Artinya, Nabi saw bisa berlaku lemah lembut berkat rahmat Allah swt. Al-Qur’an menegaskan bahwa kelunakan atau kelemahlembutan sikap Nabi SAW terhadap mereka yang berseberangan adalah buah dari rahmat Allah. Sebaliknya, jika Nabi bersikap kaku, kasar, dan reaktif, mereka akan ‘alergi’ dan menjauh dari Nabi SAW. Hal ini dikorelasikan langsung dengan potensi kemunduran dakwah (lanfadhdhu min haulik), yakni menjauhnya manusia dari kebenaran.
Menariknya, kearifan spiritual ini juga berkelindan erat dengan kearifan lokal Nusantara, seperti yang terpatri dalam falsafah Jawa: “Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti.” Artinya, segala bentuk angkara murka, sifat keras, dan kekuatan jahat akan luluh atau dikalahkan oleh sifat kasih sayang, kelembutan, dan kebijaksanaan.
Kilas Balik Misi Kenabian
Misi kenabian mengacu pada sejarah, fase perjuangan, dan esensi dari tugas para nabi—khususnya Nabi Muhammad SAW—dalam membawa ajaran tauhid dan memperbaiki akhlak manusia. “Innamā bu‘itstu li-utammima makārima al-akhlāq”, artinya sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Misi ini membawa perubahan peradaban yang besar dari zaman jahiliah menuju zaman yang terang benderang.
Penggunaan kata li-utammima (baca: menyempurnakan) memperlihatkan sikap inklusif Islam terhadap kebaikan-kebaikan universal yang telah ada di masyarakat sebelum atau di luar tradisi Islam. Islam menyerap kebaikan tersebut, membersihkannya dari anomali moral/syirik, lalu mengangkat derajatnya menjadi bagian dari ibadah.
Quraish Shihab dalam salah satu ceramahnya, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW merupakan rahmat terluhur dan terbesar yang Allah SWT berikan kepada alam semesta. Hal senada juga diungkapkan Gus Baha, esensi utama dari diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah membawa kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin), bukan ancaman atau ketakutan.
Gus Baha sering mengingatkan bahwa rahmat terbesar Nabi adalah membawa ajaran Tauhid dengan logika yang sangat sederhana dan bisa diterima akal sehat (kemudahan berpikir). Sebelum Islam, manusia menyembah banyak berhala yang membingungkan. Rasulullah datang membawa konsep Satu Tuhan, yang secara rasional membebaskan manusia dari perbudakan mental.
Kelembutan yang Menginspirasi
Dalam meneladani risalah kenabian, kita senantiasa diingatkan bahwa pilar utama keberhasilan dakwah Rasulullah SAW terletak pada kelapangan dada dan keindahan keteladanan. KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dengan sangat arif menggarisbawahi sebuah prinsip mendasar: Rasulullah SAW tidak pernah menutup pintu ampunan maupun harapan bagi siapa pun yang bergelimang maksiat.
Seburuk apa pun masa lalu seseorang, rahmat dan kasih sayang Allah SWT senantiasa jauh lebih luas daripada dosa-dosa manusia. Karena itu, gaya dakwah yang cenderung menghakimi, memvonis, apalagi gampang mengafirkan sesama, pada hakikatnya bertolak belakang dengan semangat kenabian. Sikap ekstrem semacam itu justru membangun dinding pemisah yang menjauhkan umat dari kehangatan rahmat Nabi yang semestinya merangkul setiap kalangan.
Kelembutan ini bukan sekadar teori, melainkan mewujud nyata dalam jejak sejarah (sirah) beliau. Salah satu peristiwa yang amat menyentuh adalah ketika Nabi SAW berhadapan dengan Du’tsur (Da’sur)—seorang yang menyimpan kebencian mendalam hingga menghunuskan pedang di atas kepala Nabi yang sedang beristirahat.
Ketika keadaan berbalik dan pedang berpindah ke tangan Rasulullah SAW, beliau tidak membalas dendam. Beliau justru memaafkannya dan membiarkannya pergi dalam keadaan selamat. Keluhuran budi yang tiada tanding inilah yang pada akhirnya meluluhkan kerasnya hati Da’sur hingga ia bersaksi atas kebenaran Islam.
Keteladanan pemaaf (Al-‘Afuw) ini kembali terpancar saat penaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah). Tokoh-tokoh Kafir Quraisy yang bertahun-tahun memusuhi, memboikot, dan mengusir Nabi diliputi kecemasan luar biasa. Namun, apa yang mereka dapati dari sang Nabi rahmat? Mereka menyaksikan sesosok manusia agung yang tidak menyimpan sedikit pun prasangka buruk maupun kebiadaban. Beliau menyambut mereka seraya mengutip perkataan Nabi Yusuf AS kepada saudara-saudaranya yang pernah mencelakakannya:
لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ وَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Q.S. Yusuf [12]: 92)
Ketulusan ini memancarkan pesan implisit bahwa seorang pemimpin dan pembimbing umat tidak boleh memiliki mental dendam. Jiwa kenabian adalah jiwa yang memberi tanpa pamrih (al-‘atha’). Dalam QS Yāsīn [36]: 21, disebutkan, “Ittabi‘ū man lā yas’alukum ajran wa-hum muhtadūn”. Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dalam kisah lain, ketika sebagian sahabat mempertanyakan kebijakan Nabi SAW yang memberikan sedekah kepada orang-orang yang belum terbiasa memberi atau belum mantap keimanamnya, Nabi mengajarkan sebuah paradigma baru. Jika kita memberi hanya kepada mereka yang memberi, atau berbuat baik hanya sebagai balasan atas kebaikan orang lain, maka tindakan itu belum murni sebagai wujud ketulusan memberi (mentalitas memberi), melainkan masih berwatak transaksional.
Meminjam istilah Gus Baha – berarti seseorang tersebut telah terdikte oleh lingkungan sosialnya, berbuat baik saja harus menunggu orang lain berbuat baik kepada kita. Prinsip memberi tanpa mengharapkan balasan ini dalam surah Al-Insan [76] ayat 9, “Innamā nuṭ‘imukum li-wajhillāhi lā nurīdu minkum jazā’an wa-lā syukūran”, Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan darimu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Melalui keteladanan ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa kelembutan, kesediaan memaafkan, dan kemurahan hati tanpa pamrih adalah kunci spiritual yang mampu membuka pintu-pintu hati yang paling terkunci sekalipun.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini