Kepemimpinan yang Melayani

Ketika kita memperbincangkan kepemimpinan, kecenderungan awam sering kali tertuju pada kemewahan singgasana, privilese, dan ketundukan orang-orang yang dipimpin. Padahal, jika kita menyelami ruh ajaran Islam, hakekat kepemimpinan tidak melulu soal keagungan kuasa, melainkan suatu keniscayaan untuk merunduk dan berkhidmat. 

Nabi Muhammad SAW memberikan sebuah panduan bagaimana menjadi servant leadership (kepemimpinan yang melayani), 

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

”Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”. (HR. Ad-Dailami dan Thabrani)

Pilihan kata khādim (pelayan) untuk mendefinisikan sayyid (pemimpin) mempertegas peran seorang pemimpin. Kedudukan tertinggi dalam sebuah kepemimpinan bukanlah sarana untuk mencari kehormatan atau dilayani, melainkan amanah untuk melayani, memenuhi kebutuhan, dan menyelesaikan urusan orang yang dipimpin. 

Lebih dari itu, kepemimpinan yang melayani menuntut seorang figur untuk mendahulukan kebutuhan, pertumbuhan, dan kesejahteraan kolektif di atas syahwat politik atau kepentingan pribadi. Ia memosisikan diri sebagai pengayom yang menaungi, bukan penguasa yang menuntut penyerahan diri, terlebih arogan.

Prinsip pengabdian kepemimpinan semacam ini bukanlah sesuatu yang mesti dibangga-banggakan, justru menuntut tanggung jawab yang teramat besar karena menyangkut nasib orang banyak  (amānah) yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Al-Ḥākim Yang Maha Adil. Ketegasan dimensi ini terekam jelas dalam sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

”Aku mendengar Nabi SAW bersabda: ‘Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin suatu rakyat, lalu dia tidak menasihati dan menjaga mereka (dengan penuh ketulusan), melainkan ia tidak akan mencium aroma surga.’” (HR. Bukhari)

Tidak ada sejarahnya Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya justru berbangga diri ketika ditahbiskan menjadi pemimpin, justru beliau bersedih hati dan menangis betapa sungguh berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Karena itu, sangat aneh kemudian jikalau kita, misalnya, dilantik menjadi seorang pimpinan lalu bersenang-senang dan mengadakan perayaan begitu mewah tanpa diliputi rasa empati.

Kepemimpinan membutuhkan komitmen aktif. Pemimpin tidak cukup sekadar duduk diam dan tidak berbuat zalim, tetapi diwajibkan secara proaktif memelihara, mengarahkan, serta memastikan hak-hak rakyatnya terpenuhi. Ancaman “tidak mencium aroma surga” merupakan peringatan keras (wa’īd) bahwa kelalaian dalam melayani masyarakat—baik dalam skala makro seperti kepala negara maupun skala mikro dalam lingkup keluarga dan organisasi—merupakan kegagalan fatal yang berdampak pada keselamatan akhirat.

Maka, kepemimpinan yang melayani mengisyaratkan sebuah pergeseran paradigma: dari power-oriented menjadi service-oriented. Seseorang yang memegang tampuk kepemimpinan sejatinya sedang memikul amanah Ilahi untuk mendengarkan jeritan yang tak terdengar, memenuhi kebutuhan yang terabaikan, dan memastikan keadilan tegak bagi setiap jiwa yang berada di bawah pengayomannya.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini