Tidak sedikit orang yang tetap tersenyum ketika ditanya kabarnya, padahal hatinya sedang dipenuhi kegelisahan. Di hadapan orang lain, ia tampak baik-baik saja. Ia tetap bekerja, menjalankan aktivitas seperti biasa, bahkan masih sempat menghibur orang lain. Namun, di balik semua itu, ia sedang memikul beban yang tidak ringan.
Apa yang dilakukan tersebut bukan karena benar-benar mencerminkan kondisi yang dirasakan, melainkan karena terasa sebagai pilihan yang paling aman. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dianggap lebih mudah daripada harus menjelaskan luka atau persoalan yang sedang dihadapi. Dengan jawaban singkat itu, seseorang tidak perlu menceritakan masalahnya secara panjang lebar atau menjawab pertanyaan lanjutan yang mungkin membuatnya semakin tidak nyaman
Fenomena ini menunjukkan bahwa mengakui diri sedang tidak baik-baik saja ternyata bukan hal yang mudah. Bagi banyak orang, mengatakan kondisi yang sebenarnya jauh lebih sulit daripada menyembunyikannya. Memilih memendam kesedihan, kecemasan, atau kekecewaan bukan karena tidak membutuhkan bantuan, namun karena berbagai kekhawatiran. Takut dianggap lemah, memiliki kekurangan, terlalu emosional, kurang bersyukur, atau bahkan menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya.
Kesedihan adalah Bagian dari Kehidupan
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa orang beriman harus selalu tersenyum atau tidak boleh bersedih. Justru Al-Qur’an berkali-kali menggambarkan bahwa para nabi pun pernah mengalami kesedihan yang sangat mendalam.
Salah satunya adalah Nabi Ya’qub a.s. Ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf, beliau menangis hingga penglihatannya memutih. Namun, beliau tidak mengeluhkan takdir kepada manusia. Beliau berkata,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengakui adanya kesedihan bukanlah tanda lemahnya iman. Yang tidak dibenarkan adalah berputus asa dari rahmat Allah. Kesedihan adalah fitrah manusia, sedangkan harapan kepada Allah adalah kekuatan seorang mukmin.
Demikian pula Rasulullah Saw u pernah melewati masa yang dikenal sebagai ‘Am al-Huzn (tahun kesedihan), ketika kehilangan dua sosok yang sangat dicintainya, yaitu Khadijah ra. dan Abu Thalib. Rasulullah juga pernah menangis ketika putranya, Ibrahim, wafat. Beliau bersabda,
“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa menangis dan bersedih adalah hal yang manusiawi. Yang terpenting adalah tetap menjaga lisan, hati, dan keyakinan kepada Allah.
Mengapa Kita Sulit Mengungkapkan Perasaan Sedih
Sering kali, kesulitan mengungkapkan perasaan bukan muncul begitu saja. Banyak orang tumbuh dalam lingkungan yang menganggap menangis sebagai tanda kelemahan, mengeluh sebagai bentuk kurang syukur, atau meminta bantuan sebagai sikap tidak mandiri. Akibatnya, sejak kecil seseorang belajar menyembunyikan emosinya. Ia merasa harus selalu tampak kuat agar diterima oleh lingkungan.
Ketika dewasa, tekanan itu semakin besar. Di rumah ia ingin menjadi anak yang membanggakan orang tua. Di tempat kerja ia dituntut selalu profesional. Di media sosial ia melihat kehidupan orang lain yang tampak begitu sempurna. Tanpa disadari, ia mulai membandingkan perjuangannya dengan kebahagiaan yang hanya ditampilkan di layar.
Padahal, media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang. Di balik senyuman yang dibagikan, bisa saja ada air mata yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
Mengakui Perasaan Bukan Berarti Lemah
Sebagian orang mengira bahwa menjadi pribadi yang kuat berarti mampu memendam semua masalah sendiri. Mengakui bahwa diri sedang sedih, kecewa, atau cemas justru merupakan langkah awal untuk mengenali keadaan diri. Dari situlah seseorang dapat berikhtiar mencari jalan keluar, memperbanyak doa, memperbaiki hubungan dengan Allah, sekaligus mencari dukungan dari orang-orang yang dapat dipercaya.
Rasulullah Saw juga mengajarkan agar kaum muslim saling menguatkan. Beliau bersabda,
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap Muslim membutuhkan orang lain. Tidak ada seorang pun yang diperintahkan memikul seluruh bebannya sendirian.
Karena itu, apabila beban yang dirasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya berbicara kepada keluarga, sahabat, guru, konselor, atau psikolog yang amanah. Ikhtiar mencari pertolongan bukan berarti lemahnya iman, tetapi bagian dari usaha yang diajarkan Islam. Sebagaimana tubuh yang sakit membutuhkan pengobatan, hati yang terluka pun membutuhkan perhatian.
Menjadi Tempat Pulang bagi Sesama
Di sisi lain, kita juga perlu belajar menjadi pendengar yang baik. Sering kali orang yang sedang terluka tidak membutuhkan ceramah panjang atau nasihat yang menghakimi. Yang mereka perlukan adalah didengarkan dengan empati, ditemani, dan didoakan.
Allah Swt. berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini mengingatkan bahwa saling menguatkan juga merupakan bentuk ibadah. Ketika seseorang datang membawa kesedihannya, jangan buru-buru menyalahkan atau meremehkan perasaannya. Bisa jadi, kehadiran dan perhatian kita menjadi jalan Allah untuk meringankan beban yang sedang ia pikul.
Dan menjadi hamba yang kuat bukan berarti tidak pernah menangis atau tidak pernah merasa lelah. Kekuatan sejati adalah ketika kita berani mengakui kelemahan diri, tetap bersandar kepada Allah, serta tidak sungkan menerima pertolongan dari orang-orang yang Allah hadirkan di sekitar kita. Sebab, hati yang sehat bukanlah hati yang tidak pernah terluka, melainkan hati yang selalu kembali kepada Allah di setiap keadaan.
Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd, Ustadzah di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadzah Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd? Silakan klik disini