Memberikan pujian kepada murid merupakan salah satu cara yang sering dilakukan guru maupun orang tua untuk meningkatkan motivasi belajar. Namun pujian yang diberikan secara berlebihan atau tidak tepat sasaran (overpraising) justru dapat membawa dampak sebaliknya.
Konsep overpraising menjelaskan bahwa pujian yang hanya berfokus pada hasil atau kemampuan bawaan dapat membuat anak takut gagal, enggan mencoba tantangan baru, dan terlalu bergantung pada pengakuan orang lain. Usaha (ikhtiar) dalam Islam diposisikan sebagai sesuatu yang bernilai. Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia dihargai atas apa yang diusahakannya, bukan semata-mata hasil yang diperoleh. Prinsip ini menjadi landasan penting dalam membangun motivasi belajar yang sehat. Sebagaimana termaktub dalam QS. An-Najm ayat 39:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
Terjemah:
“39. bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,”
Tafsir QS. An-Najm Ayat 39 tentang Pentingnya Usaha
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab pribadi dalam berusaha. Meskipun konteks ayat ini adalah berusaha dalam arti amal ibadah, namun konteks usaha ini dapat dikaitkan dengan keberhasilan tidak datang tanpa ikhtiar, dan setiap manusia dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diembannya (tafsir-qurthubi-[Jilid 17]: 428-429).
Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa ayat ini menekankan prinsip tanggung jawab pribadi, yaitu setiap manusia hanya memperoleh balasan sesuai dengan usaha dan amal yang dilakukannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai ikhtiar sebagai dasar memperoleh pahala maupun balasan (tafsir-al-munir- [Jilid 14]: 163-164).
Secara kontekstual ayat ini menjadi dorongan agar manusia aktif berusaha dan tidak bergantung pada amal perbuatan atau usaha yang dilakukan orang lain untuknya. Nilai seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari kesungguhan dalam berikhtiar dan memperbaiki diri.
Overpraising dalam Perspektif Psikologi Pendidikan
Carol Dweck menjelaskan bahwa cara guru dan orang tua memberikan pujian berpengaruh terhadap pola pikir (mindset) anak (Aldino, 2025, article). Pujian yang berfokus pada identitas, seperti “Kamu memang pintar” atau “Kamu berbakat,” cenderung membentuk fixed mindset, yaitu keyakinan bahwa kecerdasan merupakan sifat tetap yang tidak dapat berkembang. Akibatnya, anak menjadi takut melakukan kesalahan karena khawatir tidak lagi dianggap pintar.
Sebaliknya, pujian yang menekankan proses, seperti “Usahamu luar biasa,” “Kamu tidak menyerah meskipun soal ini sulit,” atau “Strategi belajarmu semakin baik,” akan mendorong terbentuknya growth mindset. Anak belajar bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan, ketekunan, dan pengalaman. Ketika mengalami kegagalan, ia tidak mudah menyerah karena memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Fenomena overpraising juga dapat menimbulkan ketergantungan pada validasi eksternal (Sawitri, 2017, article/). Anak hanya merasa berhasil apabila memperoleh pujian dari guru atau orang tua. Dalam jangka panjang, motivasi belajar menjadi rapuh karena bergantung pada penilaian orang lain, bukan pada keinginan untuk terus berkembang.
Pesan QS. An-Najm ayat 39 memberikan perspektif yang menarik terhadap fenomena ini. Ayat tersebut mengajarkan bahwa yang bernilai di sisi Allah adalah usaha, bukan sekadar hasil yang tampak. Oleh karena itu, guru dan orang tua sebaiknya memberikan apresiasi terhadap proses belajar, ketekunan, keberanian mencoba, dan kesungguhan peserta didik. Dengan cara ini, pujian tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri, tetapi juga membentuk karakter tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangan.
Penutup
Memberikan pujian merupakan bagian penting dalam proses pendidikan, tetapi pujian yang tidak tepat dapat berubah menjadi bumerang. QS. An-Najm ayat 39 mengingatkan bahwa usaha memiliki nilai yang sangat tinggi dalam pandangan Islam. Guru dan orang tua hendaknya lebih banyak menghargai proses belajar, kerja keras, dan ketekunan daripada sekadar hasil akhir. Dengan demikian, murid akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki semangat belajar, tidak takut gagal, dan terus berusaha mengembangkan potensi yang Allah anugerahkan. Wallahu a’lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini