Dalam kehidupan, hati manusia sering tertutupi oleh gelapnya hawa nafsu dan keinginan dunia yang terlalu mendominasi. tidak sedikit dari kita yang mengukur keberhasilan dari apa yang “sekadar” tampak di hadapan mata; harta melimpah, jabatan tinggi, keluarga membanggakan ataupun derajat sosial yang kita punya.
Padahal, bukan ini yang akan menjadi penolong kita di akhirat. Pada hari itu; harta tak dapat menebus, anak-anak yang tidak saleh tidak dapat menolong, jabatan dan kedudukan juga tidak bisa menyelamatkan. Satu-satunya yang menjadi penentu ialah kondisi hati kita saat menghadap Allah SWT. Apakah ini akan mengundang ridho-Nya? atau akan memantik murka-Nya?
Mari perhatikan firman Allah SWT dalam QS. Asy-Syu’ara: 88-89:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ – اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Tadabbur Kisah Nabi Ibrahim AS Dalam Ayat Ini
Rangkaian ayat ini, masuk dalam kisah Nabi Ibrahim AS di mana ayat-ayat sebelum ini memaparkan do’a-do’a dan dialog Nabi Ibrahim AS. Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya menerangkan bahwa pembacaan kisah ini dalam Al-Qur’an ditujukan untuk meneladani sikap, sifat dan napak tilas perjuangan Khalilullah ini. Pertama, ia adalah potret teladan dalam aspek keikhlasan dan tawakkal, Menyembah Allah SWT dengan memperhatikan segala batasan larangan dan tidak menduakan-Nya. Juga, Nabi Ibrahim AS diberikan kecerdasan sejak belia.
Pada Ayat 83 -87 dalam Surah yang sama, terdapat serangkaian permohonan dari Nabi Ibrahim AS yang menjadi petunjuk agar setiap yang membaca bisa mencapai Qalbun Salim atau hati yang selamat. Pertama ia memohon Ilmu, pemahaman dan pengetahuan. Kedua adalah memohon untuk digolongkan menjadi orang-orang saleh. Ketiga, beliau meminta untuk diperbaiki perangainya agar selepas kepergiannya ia menjadi buah tutur orang-orang dalam kebaikan. Keempat, memohon agar dijadikan penghuni surga. Selepas meminta hal-hal ini, Nabi Ibrahim AS tidak menghentikan do’a; beliau melanjutkan untuk memohon ampunan untuk ayahnya. Terakhir; Nabi Ibrahim AS meminta agar dirinya tidak dihinakan kelak saat pada hari kebangkitan datang.
Pelajaran penting bahwa Nabi Ibrahim AS sebagai utusan-Nya tak henti-henti memohon kebaikan pada-Nya. Bukan hanya berdo’a dan meminta tetapi juga melakukan ikhtiar nyata. Dialog pada kaumnya sudah dilakukan, dakwah sudah dilakukan juga senantiasa melakukan amal-amal saleh. Merupakan bentuk nyata bahwa baiknya hati dan teguhnya jiwa juga perlu penempaan dan dilatih secara terus-menerus. Ini adalah bentuk Keselamatan Hati yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS dalam kisah ini. Lalu bagaimana pengertiannya?
Siapakah Pemilik Qalbun Salim?
Dalam penjelasan ayat ini, Wahbah al-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj menerangkan:
فالمراد بالقلب السليم: هوالخالي من العقائد الفاسدة والأخلاق المرذولة والميل إلى المعاصي, وعلى رأسها الكفر والشرك والنفاق
“Yang dimaksud dengan hati yang selamat adalah hati yang terbebas dari keyakinan-keyakinan yang rusak, akhlak-akhlak yang tercela, serta kecenderungan kepada kemaksiatan; dan yang paling utama dari semua itu adalah kekafiran, kesyirikan, dan kemunafikan.”
Definisi ini menunjukkan bahwa keselamatan hati mencakup tiga lapisan sekaligus. Pertama, keselamatan akidah, yaitu terbebas dari syirik, kekufuran, dan berbagai keyakinan yang menyimpang. Kedua, keselamatan akhlak, yaitu bersih dari sifat-sifat tercela seperti kesombongan, dengki, riya, dan kebencian. Ketiga, keselamatan perilaku, yakni tidak menjadikan kemaksiatan sebagai kecenderungan dan kebiasaan hidup. Dengan kata lain, qalbun salīm adalah hati yang lurus dalam keyakinan, mulia dalam karakter, dan taat dalam perbuatan.
Sebelum kami tutup, mari merenungi Sabda Nabi Muhammad SAW berikut:
أَفْضَلُهُ لِسَانٌ ذَاكِرٌ، وَقَلْبٌ شَاكِرٌ، وَزَوْجَةٌ صَالِحَةٌ تُعِينُ الْمُؤْمِنَ عَلَى إِيمَانِهِ
“Sebaik-baik (karunia dunia) adalah lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri salehah yang membantu seorang mukmin dalam menjaga keimanannya.”
(HR. Tirmidzi no. 3094 dan Ibnu Majah no. 1856)
Semoga, Allah SWT senantiasa menjaga amal-amal kita dari hak yang merusaknya, membimbing kita pada jalan yang mendekat pada-Nya dan selalu melindungi dari hal-hal yang menjauhkan kita dari-Nya. Wallahu A’lam
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini