Psychological Safety dalam Pendidikan Islam

Psychological safety merupakan kondisi ketika seseorang merasa aman untuk berbicara, bertanya, menyampaikan pendapat, mengakui kesalahan, dan mencoba sesuatu tanpa takut dipermalukan atau mendapat penilaian negatif. Dalam dunia pendidikan, kondisi ini sangat penting karena proses belajar menuntut murid untuk aktif bertanya, mencoba, berdiskusi, bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses memahami sesuatu.

Dalam pendidikan Islam, menciptakan rasa aman bagi murid juga merupakan bagian dari akhlak seorang pendidik. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga membangun hubungan yang penuh kasih sayang sehingga peserta didik merasa dihargai dan memiliki keberanian untuk berkembang. Prinsip tersebut dapat direfleksikan melalui QS. Ali ‘Imran [3]: 159 sebagai berikut.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ ….

Terjemah:

“159.  Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu…”

Lemah Lembuat dalam Mendidik

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran tentang pentingnya kelembutan, memaafkan, dan bermusyawarah. Rasulullah saw. tetap melibatkan para sahabat dalam urusan tertentu meskipun mereka pernah melakukan kesalahan. Hal ini menunjukkan bahwa kesalahan tidak selalu menjadi alasan untuk menghilangkan kepercayaan dan kesempatan seseorang untuk belajar (tafsir-qurthubi- [Jilid 4]: 619).

Sementara itu, Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa sikap lemah lembut merupakan salah satu faktor yang membuat manusia dapat menerima nasihat dan bimbingan. Sikap keras dan kasar justru dapat menyebabkan seseorang menjauh serta menutup diri (tafsir-al-munir-[Jilid 2]: 475-476).

Psychological Safety dalam Perspektif Psikologi Pendidikan

Kelas yang penuh dengan ejekan, bentakan, atau penghukuman terhadap kesalahan dapat membuat siswa memilih diam. Mereka mungkin tetap hadir secara fisik, tetapi secara psikologis tidak benar-benar terlibat dalam pembelajaran.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru dapat membangun psychological safety melalui respons sederhana terhadap kesalahan siswa. Psychological safety juga bukan berarti guru membiarkan semua perilaku atau menghilangkan disiplin. Kelas yang aman secara psikologis tetap membutuhkan aturan dan ketegasan, tetapi ketegasan tersebut tidak disertai penghinaan, ancaman, atau tindakan yang merendahkan martabat peserta didik.

Guru yang Membuat Siswa Berani

Pendidikan Islam mengajarkan bahwa hubungan guru dan peserta didik tidak semata-mata hubungan antara penyampai dan penerima informasi. Guru memiliki peran sebagai murabbi yang membimbing perkembangan intelektual sekaligus karakter peserta didik (Yudistira, 2025, article/). 

Karena itu, guru perlu membangun budaya kelas yang memungkinkan siswa mengatakan, “Saya belum paham,” tanpa merasa malu; bertanya tanpa takut ditertawakan; dan melakukan kesalahan tanpa merasa dirinya adalah anak yang gagal.

Prinsip ini dapat diwujudkan melalui beberapa kebiasaan sederhana yaitu menghargai setiap pertanyaan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir sebelum menjawab, menghindari mempermalukan siswa di depan teman-temannya, memberikan kritik terhadap perilaku atau pekerjaan tanpa menyerang pribadi, serta memberikan apresiasi terhadap keberanian mencoba.

Dengan demikian, guru bukan hanya membuat siswa pandai menjawab, tetapi juga membuat mereka berani bertanya. Sebab, pembelajaran yang baik bukanlah kelas yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan kelas yang menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses untuk berkembang.

Penutup

Psychological safety menunjukkan bahwa rasa aman memiliki peran penting dalam keberanian siswa untuk belajar, bertanya, dan berpendapat. QS. Ali ‘Imran [3]: 159 memberikan prinsip pendidikan yang relevan melalui kelembutan, pemaafan, dan musyawarah. Guru yang mampu menciptakan suasana kelas yang aman bukan berarti guru yang kehilangan ketegasan, tetapi guru yang mampu mendisiplinkan tanpa merendahkan dan mengoreksi tanpa mematahkan keberanian. Pada akhirnya, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan menjadikan siswa berilmu, tetapi juga membentuk pribadi yang percaya diri, beradab, dan berani terus belajar. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini